Wednesday, 19 July 2017

Yogyakarta Gelar Festival Budaya Kampoeng Musikanan


Jakarta -Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta akan menghidupkan tradisi di Kampung Musikanan yang merupakan kawasan tempat tinggal para abdi dalem pemain musik Keraton Yogyakarta. Hal itu dilakukan dengan menggelar  "Festival Budaya Kampoeng Musikanan 2017".

Sekretaris Dinas Pariwisata  DIY Ruse Sutikno di Yogyakarta, Kamis, mengatakan festival ini akan diselenggarakan bersama para seniman dan budayawan pada 16 Juli 2017 di sepanjang Jalan Kampung Musikanan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Kota Yogyakarta.

"Tujuan kami bisa mengenalkan dan menghidupkan kembali tradisi bermusik di kampung tempat bermukimnya para pemain musik keraton itu," kata dia.

Selain mengingatkan kembali sejarah Kampung Musikanan kepada masyarakat, Ruse berharap melalui festival itu akan mampu menjadikan kampung itu sebagai destinasi wisata baru di DIY.

Ketua Panitia, Prijo Mustiko mengatakan festival dengan tema "Merayakan Kebhinekaan Musik Nusantara" itu mencakup beragam kegiatan. Rangakain acara akan diawali karnaval musik. Setelah itu ada pentas musik tiga panggung, bazaar kuliner, kerajinan, pameran foto dokumentasi, animasi, alat musik kuno, dan diskusi.
 
Prijo menjelaskan karnaval musik akan melintasi Jalan Kemitbumen-Jalan Wijilan-Jalan Ibu Ruswo hingga Jalan Pekapalan Kidul. Karnaval akan diikuti 200 orang peserta terdiri atas Bergada Ungel-ungelan Prajurit Keraton Yogyakarta, Drumband siswa SDN Keputran I, Grup Seni Recorder dan Kenthongan Siswa SDN Keputran I, Grup Seni Topeng Ireng Musikanan, dan Marchingband DC Kota Yogyakarta.

Pentas musik 3 panggung, kata dia, akan terbagi di tiga tempat yakni Panggung Montecarlo yang berada di depan SDN Keputran I, Panggung Djoned di depan Puskesmas Keraton, serta Panggung Miss Surip di Pasar Bludiran, Yogyakarta. Panggung-panggung itu menampilkan beragam aliran musik mulai jazz, klasik, hingga keroncong.

Ketua RT 15, Kampung Musikanan, Sigit Wicaksono berharap penyelenggaraan festival itu mampu menghidupkan kembali geliat seni musik di kampung yang terletak di sebelah timur Pagelaran dan Siti Hinggil Keraton Yogyakarta itu.

Menurut Sigit, selain sebagai tempat tinggal para musisi Keraton, banyak musisi besar Indonesia yang lahir di kampung itu seperti Idris Sardi, Embong Rahardjo, dan banyak musisi nasional lainnya. "Karena tuntutan ekonomi banyak yang berhijrah ke Jakarta. Namun sampai sekarang masih banyak penerusnya di kampung itu," kata dia.

Kampung Musikanan terdiri atas tiga rukun tetangga yaitu RT 57, RT 58, serta RT 59. Akses masuk kampung itu hanya berupa gang kecil yang hanya cukup dilewati pejalan kaki dan sepeda motor.
 
"Dahulu alat musik dibunyikan sepanjang hari di kampung ini. Musiknya bukan karawitan namun perpaduan musik Jawa dan Belanda," kata dia.

Tuesday, 18 July 2017

Borobudur International Festival 2017 Siap Digelar Akhir Juli


JAKARTA, KOMPAS.com - Borobudur International Festival (BIF) akan digelar pada 28–30 Juli 2017 di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Beragam acara seni akan ditampilkan dalam acara BIF.
"Alhamdulillah, Borobudur International Festival sudah masuk tahun keempat. Semoga event ini bisa mendobrak sektor pariwisata. Semoga bisa makin mengajak masyarakat berpartisipasi mengembangkan pariwisata," kata Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo saat acara peluncuran acara Borobudur International Festival 2017 di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin (17/7/2017).
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan 8 dari 13 acara di BIF 2017 merupakan acara budaya. Menurutnya, wisatawan mancanegara ke Indonesia lantaran faktor budaya.
"Budaya Indonesia sudah diakui oleh dunia. Budaya kita selalu masuk peringkat 20 terbaik versi World Economic Forum," tambahnya.
 
Acara BIF 2017 akan diikuti oleh para seniman dari China, Jepang, dan India. Seniman luar negeri itu akan melakukan kolaborasi pertunjukan seni budaya dengan para seniman dari berbagai daerah mulai pagi hingga malam hari.
BIF 2017 akan dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian daerah (dari Kabupaten Lumajang (Jawa Timur), Banten dan Kabupaten / Kota di Jawa Tengah seperti Kota Pekalongan, Kota Tegal, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Jepara, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Rembang, dan Kabupaten Magelang.
 
BIF 2017 melibatkan ratusan seniman dari berbagai daerah di Tanah Air serta seniman mancanegara antara lain dari Jepang, China, dan India. Para seniman ini akan tampil dengan karya terbaik mereka mulai pagi hingga malam hari.
Adapun acara yang turut meramaikan BIF 2017 adalah Festival Desa Wisata, Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Manteb Sudarsono, Festival Permainan Rakyat, Festival Gamelan, Pameran Tourism Trade Invesment, Lomba Drone dan Blogger, Pagelaran Wayang Padat, Festival Tradisi Lesan, Gelar Seni Budaya, dan Lomba Foto, serta Familiarization Trip.
 

Monday, 17 July 2017

"Mostly Jazz Festival" Ramaikan Pantai Sanur, Bali


DENPASAR - Perhelatan Sanur Mostly Jazz Festival membuat kawasan pariwisata Pantai Sanur, Bali, lebih berwarna dan berbeda. Digagas musisi nasional, Indra Lesmana, ajang musik ini berhasil mendatangkan musisi kelas atas Tanah Air.
Seperti yang terlihat pada Sabtu (15/7/2017) petang, hari kedua berlangsungnya festival. Ratusan penonton yang didominasi wisatawan mancanegara menikmati sajian dari para musisi jazz di dua panggung yang ditata apik di pinggir pantai.
 
Satu panggung bernuansa taman, sementara panggung yang lebih besar berlatar belakang perairan Selat Badung yang eksotik. Penonton pun leluasa menikmati suasana sambil menikmati hidangan dari Griya Santrian Resort.
Dimulai pada pukul 16.30 Wita, ajang ini menampilkan Sandy Winarta Trio. Irama ritmik drum seakan bersahutan dengan hembusan angin pantai. Sandy merupakan musisi kelahiran Denpasar, alumnus Australian Institute of Music di Sydney dan New School for Jazz and Contemporary Music di New York.
Setelah penampilan Sandy, giliran gitaris Tohpati unjuk kebolehan membawakan beberapa komposisi dari album solonya. Sajian musik Tohpati dan band pun membuat senja di Pantai Sanur semakin romantis.
Sebagai gitaris handal, Tohpati pernah merilis sejumlah album besama grup seperti Simak Dialog, Halmahera, dan Trisum. Ia juga dikenal melambungkan sederet penyanyi pop Indonesia selama dekade ini.
Musisi Ito Kurdhi yang tampil berikutnya merasa bahagia karena tiga hari sebelumnya meluncurkan album ‘Terbang Melayang’.
“Ya, saya bersyukur bisa tampil di ajang ini sekalian untuk memperkenalkan dan promosi album baru,” kata pembetot bass yang pernah tampil di sejumlah festival ini.
 
Yang membuat suasana festival kian panas adalah kehadiran Sandhy Sondoro. Kelincahan gerak dan kekhasan vokalnya serta lirik yang cocok di kala hati galau, membuat sebagian penonton tak tahan untuk berdendang.
Sandhy meluncurkan beberapa lagu dari sederet albumnya Why Don't We (2008), Jazz In The City with Sandhy Sondoro (kompilasi) (2009), Sandhy Sondoro (2010), Find The Way (2012), Vulnerability (2014), Berlin! Berlin! Lck Lieb Dir So Sehr (2016), dan Love Songs (2016).  
 
Puncaknya adalah performa dari gitaris senior Oele Pattiselanno yang menggandeng vokalis jazz Margie Segers. Keduanya kerap tampil bersama mendiang Jack Lesmana pada 1970-an baik di panggung jazz maupun di dapur rekaman.
Waktu tampil satu jam rasanya masih kurang untuk menyaksikan musikalitas Oele, menyaksikan dedengkot jazz Tanah Air ini memainkan alat musik.
Musisi dan penggagas Sanur Mostly Jazz Indra Lesmana mengaku bahagia bisa menghadirkan tokoh jazz Tanah Air dalam festival perdana yang merupakan bagian dari Sanur Village Festival ini.
 
Festival ini berlangsung selama tiga hari, yakni 14-16 Juli 2017 di pantai Sanur, Denpasar. Indra berjanji akan mengawal acara ini menjadi agenda tahunan dan akan memberikan apresiasi para musisi jazz lintas generasi. Apalagi atmosfer Pantai Sanur dinilai sangat cocok dengan musik jazz.
“Atmosfer Sanur yang sangat cocok dengan audiens jazz membuat saya yakin kawasan ini akan menjadi destinasi musik jazz," kata Indra Lesmana.